KRISIS KEWANGAN ASIA 1997 PDF

Pada , Indonesia masih dianggap bermasalah menurut standard manapun. Saat itu Indonesia melakukan invasi, masih menduduki Timor-Leste, negara sekaligus dituduh terlibat penculikan puluhan aktivis pro-reformasi, serta sedang mengalami kemerosotan kondisi moneter yang merupakan dampak dari Krisis Keuangan di Asia. Meskipun Indonesia memiliki rekam jejak yang buruk di bidang Hak Asasi Manusia dan serangkaian kesalahan dalam pengelolaan finansial yang menyebabkan Indonesia mengajukan pinjaman dari Dana Moneter Internasional IMF pada Oktober , Amerika Serikat justru tampak senang mendukung Indonesia yang saat itu sedang dalam kondisi terdesak tersebut dengan mendukung langkah Indonesia meminta bantuan pada IMF dan bahkan menyetujui penambahan pinjaman kredit sebesar USD 3 miliar. Tahun ini, 21 tahun setelah kejadian tersebut, Pemerintah Amerika Serikat baru saja merilis dokumen yang bersumber dari berkas-berkas Departemen Luar Negeri—yang beberapa di antaranya telah dirahasiakan selama 20 tahun—yang memberikan titik terang terhadap misteri hubungan AS-Indonesia pada periode itu: mulai dari hubungan dekat antara Presiden Bill Clinton dan Presiden Suharto, sampai mengungkap hubungan Amerika Serikat terhadap keterlibatan negara adidaya tersebut dalam pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Berkas-berkas tersebut juga menunjukkan bahwa ketika pemerintahan Clinton secara terbuka mengecam pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia, tapi di sisi lain dokumen itu juga menarik garis benang merah tentang hubungan Amerika dengan tokoh-tokoh kunci di dalam tubuh militer dan pemerintah Indonesia yang terlibat dalam dugaan pelanggaran HAM selama bertahun-tahun—untuk menggambarkan betapa mengerikan kekerasan dan represi yang terjadi. Militer Amerika Serikat pernah bertahun-tahun membujuk pemerintah Indonesia mengadakan pelatihan dan membeli peralatan militer.

Author:Voodoogore Kigazragore
Country:Eritrea
Language:English (Spanish)
Genre:Health and Food
Published (Last):22 November 2007
Pages:234
PDF File Size:6.12 Mb
ePub File Size:18.28 Mb
ISBN:202-3-32037-865-5
Downloads:78952
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zular



Pada , Indonesia masih dianggap bermasalah menurut standard manapun. Saat itu Indonesia melakukan invasi, masih menduduki Timor-Leste, negara sekaligus dituduh terlibat penculikan puluhan aktivis pro-reformasi, serta sedang mengalami kemerosotan kondisi moneter yang merupakan dampak dari Krisis Keuangan di Asia. Meskipun Indonesia memiliki rekam jejak yang buruk di bidang Hak Asasi Manusia dan serangkaian kesalahan dalam pengelolaan finansial yang menyebabkan Indonesia mengajukan pinjaman dari Dana Moneter Internasional IMF pada Oktober , Amerika Serikat justru tampak senang mendukung Indonesia yang saat itu sedang dalam kondisi terdesak tersebut dengan mendukung langkah Indonesia meminta bantuan pada IMF dan bahkan menyetujui penambahan pinjaman kredit sebesar USD 3 miliar.

Tahun ini, 21 tahun setelah kejadian tersebut, Pemerintah Amerika Serikat baru saja merilis dokumen yang bersumber dari berkas-berkas Departemen Luar Negeri—yang beberapa di antaranya telah dirahasiakan selama 20 tahun—yang memberikan titik terang terhadap misteri hubungan AS-Indonesia pada periode itu: mulai dari hubungan dekat antara Presiden Bill Clinton dan Presiden Suharto, sampai mengungkap hubungan Amerika Serikat terhadap keterlibatan negara adidaya tersebut dalam pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.

Berkas-berkas tersebut juga menunjukkan bahwa ketika pemerintahan Clinton secara terbuka mengecam pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia, tapi di sisi lain dokumen itu juga menarik garis benang merah tentang hubungan Amerika dengan tokoh-tokoh kunci di dalam tubuh militer dan pemerintah Indonesia yang terlibat dalam dugaan pelanggaran HAM selama bertahun-tahun—untuk menggambarkan betapa mengerikan kekerasan dan represi yang terjadi.

Militer Amerika Serikat pernah bertahun-tahun membujuk pemerintah Indonesia mengadakan pelatihan dan membeli peralatan militer. Pada , World Policy mempublikasikan laporan khusus yang menguraikan aliran dana untuk persenjataan dan pelatihan tersebut:. Pelatihan militer juga difokuskan dalam periode ini — Departemen Pertahanan mengalokasikan lebih dari USD7. Indonesia telah menginvasi Timor-Leste sejak , dan baru menarik pasukannya pada Amerika Serikat tidak lagi berniat memberikan bantuan militer kepada Indonesia.

Tetapi dokumen yang dibuka kepada publik menceritakan kisah yang berbeda; salah satunya terkait dengan penyebab terjadinya krisis ekonomi Asia Tenggara yang melanda Indonesia. Dokumen yang baru dirilis oleh National Security Archive, banyak di antaranya berupa telegram dan email dari kedutaan AS di Jakarta kepada kantor di Washington DC , mengungkapkan bagaimana situasi sepanjang Krisis Finansial Asia pada , Amerika yang terus menumbuhkan tokoh-tokoh penting dalam tentara Indonesia, termasuk Mayor Jenderal Prabowo Subianto—calon presiden saat ini yang diduga telah memerintahkan aksi penculikan terhadap aktivis pro-reformasi di Indonesia selama periode Dokumen-dokumen tersebut juga menunjukkan bagaimana hubungan militer antara Indonesia dan Amerika dan memberikan informasi yang cukup banyak mengenai bagaimana sikap Amerika Serikat terhadap krisis keuangan dan tentang meningkatnya kekerasan yang terjadi di seluruh Indonesia.

Posisi ini menegaskan dukungan Amerika Serikat terhadap Indonesia dan mendorong pemerintahan Clinton untuk menutup mata terhadap pola pelanggaran yang terdokumentasikan dengan baik yang dilakukan oleh militer Indonesia, bahkan ketika presiden mereka terlena dengan pinjaman finansial atas nama Suharto. Dokumen tersebut juga mencakup transkrip pembicaraan antara Clinton dan Suharto, yang menggarisbawahi sikap simpatik mantan presiden Amerika tersebut terhadap rekanannya, Indonesia.

Posisi ini menegaskan dukungan Amerika Serikat terhadap Indonesia dan mendorong pemerintahan Clinton untuk menutup mata terhadap pola pelanggaran yang terdokumentasikan dengan baik yang dilakukan oleh militer Indonesia, bahkan ketika presiden mereka Indonesia terlena dengan pinjaman finansial atas nama Suharto. Pinjaman tersebut akan berjumlah lebih dari USD43 miliar untuk mengakhiri krisis pada Banyak telegram dan email dengan status rahasia tersebut ditulis oleh J. Stapleton Roy. Sebagai duta besar AS untuk Indonesia selama periode hingga , dia merupakan salah satu tokoh kunci yang dianggap paling dekat dengan peristiwa tersebut.

Tugasnya di kedutaan AS di Jakarta termasuk mengirim laporan berkala mengenai situasi politik, ekonomi, dan sosial di Indonesia, berdasarkan informasi yang diperoleh dari laporan berita lokal, sumber kedutaan maupun analisanya sendiri.

Selama beberapa bulan, Roy memantau krisis finansial tersebut ketika krisis mulai meruntuhkan ekonomi Indonesia dan mengirimkan kembali analisisnya kepada Capitol Hill di Washington DC. Apakah Roy memiliki firasat bahwa Indonesia akan berubah selamanya dalam enam bulan setelah 10 Oktober , dia tidak menjelaskan di dalam laporannya untuk Madeleine Albright, Sekretaris Negara AS saat itu, saat memberikan laporan terbaru kepadanya mengenai permintaan pinjaman IMF oleh Indonesia.

Krisis Keuangan Asia pertama kali terjadi di Thailand yang dimulai pada Juli Pemerintah Thailand memiliki cicilan hutang luar negeri dalam jumlah yang cukup besar dan membuat keputusan yang menghancurkan untuk menaikkan nilai mata uang Baht, dengan harapan akan mampu meningkatkan pendapatan ekspor. Rencana tersebut gagal, dan krisis menyebar ke seluruh Asia Tenggara dikarenakan para investor menarik diri serta meninggalkan mata uang Asia secara berbondong-bondong. Walaupun banyak dari analis memprediksi bahwa Thailand yang akan menanggung beban dari krisis tersebut, namun pada akhirnya ternyata Thailand bukan negara yang paling menderita.

Beberapa perusahaan swasta di Indonesia yang telah meminjam dengan jumlah besar dari luar negeri, mengambil pinjaman jangka pendek untuk proyek jangka panjang, terbebani dengan hutang karena nilai rupiah yang tidak stabil. Indonesia juga diterpa permasalahan lain yakni berupa kekeringan yang disebabkan El Nino; kebakaran hutan yang mengakibatkan kabut asap yang luas serta masalah berbagai kesehatan; kurangnya produk impor seperti susu formula; serta aksi kepanikan masyarakat yang melakukan pembelian dan penimbunan kebutuhan pokok seperti beras dan minyak.

Di saat kondisi pasar stabil pada , Indonesia telah mengalami tidak hanya kondisi pasar yang hampir runtuh, namun juga kerusuhan sosial dan politik yang menyebabkan pemerintah menjadi terimbas. Akan tetapi, Roy, Ia lebih pragmatis. Laporannya menggambarkan seberapa cepat krisis keuangan yang melanda Indonesia dan menyoroti tanggapan dari Amerika Serikat.

Pada tanggal 23 Oktober , dia kembali melaporkan kembali kepada Washington sebagai bahan persiapan untuk perjalanan Sekretaris Asisten Stanley Roth ke Indonesia.

Kunjungan anda di waktu yang tepat untuk menyampaikan gambaran yang jelas bahwasanya AS tetap berkomitmen untuk tetap menjaga hubungan bilateral yang kuat.

Hubungan ini penting bagi Amerika. Pendanaan AS untuk pendidikan dan pelatihan militer IMET sebagian besarnya telah dihentikan oleh Kongres, dan interaksi diplomatik telah berkurang beberapa bulan terakhir. Amerika bingung terhadap keputusan Suharto. Ia menarik diri dari kesepakatan tentang pembelian jet tempur F, dan lebih memilih membeli Sukhoi 30s dari Rusia sebagai gantinya.

Kunjungan para petinggi militer AS… telah menopang hubungan keamanan kita namun dengan tidak adanya pelatihan IMET atau penjualan militer dalam jangka waktu lama akan melemahkan hubungan antara dua perusahaan militer kita.

Setelah awalnya Kongres memotong dana untuk Indonesia pada , dan kemudian kembali mencoba menghentikan semua latihan militer pada , menyuarakan kekhawatiran bahwa latihan tersebut digunakan di Timor-Leste untuk menculik, menyiksa dan memenjarakan para aktivis pro-kemerdekaan.

Itu dimaksudkan untuk mengakhiri hubungan militer bersama. Meskipun kenyataannya Kongres menentang penjualan atas pelatihan dan peralatan militer ke Indonesia, beberapa departemen negara bagian justru melihatnya sebagai faktor penting dalam hubungan bilateral. Laporan tersebut merinci sejumlah opsi pinjaman yang berbeda, selain dana talangan IMF, untuk dipertimbangkan oleh Amerika Serikat.

Pada akhirnya, Amerika Serikat memilih menyetujui pemberian hutang sejumlah USD 3 miliar kepada Indonesia dan menerapkan dukungannya tersebut di balik paket dana talangan IMF.

Indonesia juga menerima USD8 miliar dari lembaga multilateral dan pinjaman-pinjaman lainnya sebesar USD8 miliar dari penyumbang bilateral. Tetapi semuanya tidak berjalan dengan lancar di Capitol Hill. Rubin, Sekretaris Keuangan. Penindasan brutal terhadap hak buruh yang diakui internasional ini secara rutin diterapkan dengan tangan besi oleh angkatan bersenjata Republik Indonesia.

Mereka seperti itu karena lebih mementingkan kepentingan mereka ketimbang kita. Selain itu, beberapa negara berkembang, termasuk yang berasal dari Asia Tenggara, merupakan saham yang sangat penting terhadap total ekspor AS. Pasar ekspor mewarnai hampir setiap keputusan yang dibuat oleh pemerintahan Clinton terhadap Indonesia. Sebelum itu, walaupun masih dalam jalur kampanye kepresidenan, Clinton telah vokal menyuarakan tentang pelanggaran hak asasi manusia di Timor-Leste dan pemerintahannya telah mendukung resolusi PBB pada yang mengkritik pemerintah Indonesia setelah penyerangan di Pemakaman Santa Cruz pada Namun sikap Clinton segera berubah setelah mengambil alih kantor.

Dia menyadari potensi yang didapat perusahaan-perusahaan Amerika untuk menghasilkan uang di Indonesia secara reguler yang mana disebut-sebut sebagai salah satu pasar besar di Asia Tenggara. Jika Clinton ingin mendapatkan jalan masuk, dia harus menjilat kepada seseorang.

Pemerintahan Clinton, di balik segala upaya terbaiknya, telah mengirim pesan yang membingungkan kepada Indonesia; di satu sisi menegur Suharto atas pelanggaran hak asasi manusia, dan di sisi lain mendesak jatah saham yang lebih besar untuk pasar di Indonesia. Tetapi ini semua omong kosong. Yang paling buruknya, pemerintah AS secara jelas telah diprioritaskan untuk mendapatkan bagian dari perekonomian Indonesia yang sedang berkembang di atas kesejahteraan para aktivis dan penduduk Timor-Leste.

Roth menyinggung mengenai hubungan spesial antara Amerika Serikat dan Indonesia, yang menyebutkan uang bantuan USD3 miliar telah dikontribusikan oleh Amerika lewat pada paket dana talangan IMF. Kemudian pembicaraan beralih ke topik militer.

Berdasarkan telegram, yang ditulis oleh Roy dan diperjelas oleh Roth, tidak seorangpun dalam pertemuan tersebut—termasuk Wakil Kepala Misi di Jakarta dan Atase Pertahanan Kolonel Don McFetridge—membuat referensi terhadap pelanggaran hak asasi manusia oleh militer Indonesia baik di Timor-Leste ataupun di tempat lain. Selama bertahun-tahun, aktivis pro reformasi, pekerja NGO, dan tokoh-tokoh oposisi hilang tanpa jejak—mereka dituduh ingin menggulingkan pemerintah, diduga diculik dan diintimidasi untuk dibungkam.

Beberapa dari mereka tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Setelah lelah terbang ke Vancouver melalui Afrika Selatan, Suharto harus menghadiri pertemuan yang cukup menegangkan itu. Clinton menjanjikan dukungan untuk Indonesia, tapi di saat yang sama Ia juga mengangkat tentang pelanggaran hak asasi manusia yang sedang berlangsung di Timor-Leste dan pembungkaman pihak-pihak yang pro-reformasi.

Persoalan-persoalan ini, kata Clinton, akan merugikan citra Suharto di luar negeri, dan bisa mengancam dukungan dari IMF dan investor asing. Inilah apa yang Indonesia lakukan selama bertahun-tahun dan orang luar tidak mengerti. Terima kasih. Ketidaksediaan Suharto untuk mendiskusikan atau mengendalikan tindakan opresif bukan satu-satunya masalah Clinton. Sambil berupaya keras mengingatkan Suharto tentang hubungan dekat mereka, Clinton juga mengetahui presiden Indonesia belum mengimplementasikan reformasi yang disyaratkan oleh IMF sebagai bagian dari kesepakatan untuk dana pinjaman.

Kesepakatan tersebut termasuk 50 poin perencanaan reformasi dan hal-hal seperti mengakhiri subsidi rakyat dan mengakhiri sistem patronase Suharto.

Namun, kegagalan mengimplementasikan reformasi IMF yang mengakibatkan negara tersebut kembali pada pijakan keuangan yang sehat tidak cukup membuat Amerika Serikat menarik dukungan mereka. Tapi Clinton tetap mengakhiri perbincangan itu dengan suasana penuh persahabatan. Namun Amerika Serikat mendapat tekanan karena menegaskan dukungannya terhadap Indonesia, terutama dikarenakan negara tersebut tidak menawarkan bantuan keuangan yang sama kepada Thailand.

Pada 12 Januari , sebuah dokumen diedarkan ke semua pos Asia dan Pasifik dengan panduan pers. Ini memberikan pandangan sekilas mengenai pengawasan media yang harus dihadapi Amerika Serikat. Dia mengirim Deputi Menteri Keuangan Larry Summers ke Indonesia bertemu dengan presiden yang sedang berada di masa sulit. Akan tetapi, kondisi ini tidak berlangsung lama. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa, kurang dari sebulan kemudian, Amerika Serikat sekali lagi diguncang oleh respon Suharto yang semakin tidak menentu mengenai krisis.

Pada 13 Februari Clinton menelepon Suharto lagi, dia telah mendengar bahwa Suharto telah memiliki rencana gila untuk menerapkan dewan mata uang — yang mengambil alih kewenangan mengelola nilai pertukaran dari bank sentral dengan mengelompokkannya ke suku bunga tetap dengan mata uang asing — dan ingin memperingatkannya.

Suharto kelihatannya, enggan untuk menerima saran tersebut, setidaknya dari kerumitannya. Saya menghimbau anda untuk mendekati G-7 dan meminta mereka menaruh perhatian terhadap situasi di Indonesia. Pada 16 Maret , seorang wartawan Amerika di Jakarta menggelar konferensi pers untuk mempublikasikan dugaan mengenai program latihan bersama AS—Indonesia yang dirahasiakan, yang juga bersamaan dengan pelepasan dokumen Pentagon oleh sekutu Kongres dari East Timor Action Network ETAN.

Baik jurnalis maupun dokumen tersebut menuduh bahwa Pentagon telah menjual pelatihan militer ke Indonesia tanpa sepengetahuan Kongres, dan bukan hanya pada Pada 28 Maret , sebuah telegram yang ditandatangani oleh Albright, dikirim dari Washington DC ke kedutaan AS di Jakarta, mencatat ketegangan antara Kongres dan pemerintahan yang lebih luas:.

Pada April, demonstrasi berlangsung di seluruh kampus-kampus universitas di Indonesia. Para mahasiswa kehilangan kesabaran terhadap kurangnya stabilitas keuangan; hingga membuat keadaan menjadi lebih buruk, orang-orang yang hilang dan masih belum ditemukan, hanya selang beberapa bulan kemudian dinyatakan bahwa mereka diculik dan disiksa oleh militer Indonesia—yang dengan jelas, telah menerima pelatihan secara rahasia dari Amerika.

Pemerintah AS bukan hanya telah menjual pelatihan militer kepada Indonesia—meski legal, tapi telah dilakukan tanpa memberitahu Kongres—juga telah menyetujui pinjaman sebesar USD3 miliar yang mengurangi kesengsaraan keuangan Indonesia, dan Clinton telah mengeluarkan pernyataan setelah menyatakan mendukung Suharto. Sekarang jelas bahwa mereka terus melakukan hal ini bahkan di tengah dugaan kasus pelanggaran hak asasi manusia yang mereka tuduhkan pada masa pada pemerintahan Suharto. Roth mengatakan dia berharap agar Indonesia akan mencapai kesepakatan lain dengan IMF atas dana talangan yang lebih banyak sebelum 15 April , tetapi mengatakan lagi bahwa pemerintahan Clinton dan Kongres khawatir terhadap kemungkinan rencana pemerintah Indonesia untuk menghentikan demonstrasi di kampus, penahanan ratusan peserta aksi damai, dan meneruskan penghilangan terhadap para aktivis.

Meskipun Suharto telah dengan sengaja mengabaikan sebagian besar persyaratan IMF pada bulan-bulan sebelumnya, IMF, yang didukung oleh Amerika Serikat, menandatangani perjanjian yang ketiga dengan Indonesia pada April dan mengucurkan kembali sejumlah uang kepada negara tersebut, dengan pemahaman bahwa Suharto akan bekerja untuk melakukan restrukturisasi sistem perbankan dan menerapkan undang-undang kepailitan. Saat Indonesia terus berjuang untuk bertahan menghadapi krisis sosial dan ekonomi, isu-isu terhadap penculikan dan penghilangan membuat Amerika Serikat pusing.

Dari semua dokumen rahasia yang baru dibuka, salah satu yang paling heboh adalah yang dikirim oleh Roy pada 7 Mei —dokumen ini telah dirahasiakan selama 20 tahun. Dalam sebuah telegram yang dikirim dengan perhatian prioritas kepada Washington DC, Roy menjelaskan bagaimana kedutaan AS di Indonesia mengumpulkan sumber, termasuk aktivis mahasiswa, untuk menginformasikan tentang di mana orang-orang yang diculik tersebut ditahan dan siapa yang bertanggung jawab.

Dokumen tersebut tidak menjelaskan apa yang menyebabkan Amerika tiba-tiba menginginkan informasi dari sebuah peristiwa yang yang telah berlangsung sejak , dan bukan misteri baru.

Terlihat kemungkinan bahwa kedutaan tersebut sedang di bawah tekanan yang baru diterapkan dari Washington DC untuk mencari tahu jika terdapat hubungan yang dapat membuktikan keterlibatan Kopassus—kekuatan elit di dalam tentara Indonesia yang melakukan operasi khusus untuk pemerintah—dan pelanggaran hak asasi manusia, dan apakah mereka menggunakan kemampuan yang dipelajari dari J-CET untuk menculik dan menyiksa para individu yang pro reformasi.

Meski nama-nama sumber yang dikumpulkan oleh kedutaan telah disunting, tetapi laporannya jelas. Meskipun laporan-laporan sebelumnya yang dikirim oleh Roy ke Washington DC menjelaskan rumor tentang Prabowo dan keterlibatan militer dalam penculikan, dokumen ini adalah tanda yang paling jelas bahwasanya Amerika sekarang mengetahui siapa yang bertanggung jawab terhadap pelanggaran hak asasi manusia: Suharto, yang telah berbulan-bulan mendapatkan bantuan keuangan dan bilateral dari Amerika Serikat dan IMF; Prabowo yang telah dijamu oleh Roth dengan senang hati kembali di bulan November untuk penjualan peralatan militer; dan Kopassus, yang telah dilatih oleh militer AS tanpa sepengetahuan Kongres.

Laporan-laporan sebelumnya yang dikirim oleh Roy ke Washington DC menjelaskan rumor tentang Prabowo dan keterlibatan militer dalam penculikan, dokumen ini adalah tanda yang paling jelas bahwasanya Amerika sekarang mengetahui siapa yang bertanggung jawab terhadap pelanggaran hak asasi manusia: Suharto.

CAVUSGIL KNIGHT RIESENBERGER INTERNATIONAL BUSINESS PDF

Suharto, Militer AS, dan Krisis Finansial Asia

The Asian financial crisis was a period of financial crisis that gripped much of East Asia and Southeast Asia beginning in July and raised fears of a worldwide economic meltdown due to financial contagion. Capital flight ensued almost immediately, beginning an international chain reaction. At the time, Thailand had acquired a burden of foreign debt that made the country effectively bankrupt even before the collapse of its currency. Indonesia , South Korea , and Thailand were the countries most affected by the crisis.

INVESTIGACION SOBRE EL ENTENDIMIENTO HUMANO DAVID HUME PDF

1997 Asian financial crisis

.

LIVROS DA VERA LUCIA MARINZECK DE CARVALHO EM PDF

.

Related Articles